Selasa, 13 Mei 2014

You've Got Me From Hello 5 -cakshill stories-


You’ve Got Me From Hello
Santhy agatha










NO COPAST!








“Kau sudah menggenggam hatiku sejak sapaan pertamamu. Dan sekarang giliranku yang akan mencuri hatimu.”
5
Pagi harinya Shilla masih tertidur dan meringkuk di atas ranjangnya ketika suara interkom pintunya berbunyi. Shilla mengernyit, meraih jam beker di sebelah ranjangnya. Masih jam enam pagi. Siapa yang berkunjung sepagi ini?
Dengan susah payah Shilla turun dari ranjang, matanya pasti bengkak karena dia menangis semalaman sampai ketiduran, dan kepalanya pening karenannya.
Dia memijit tombol interkom yang berhubungan langsung dengan resepsionis di depan.
“Ya?” gumamnya dengan suara yang masih serak.
“Nona Shilla, ada tamu untuk anda.”
Shilla langsung waspada, apakah Raka masih belum menyerah juga?
“Siapa?”
“Tuan Cakka meminta akses untuk naik dan menemui anda.”
Jantung Shilla langsung berdebar, teringat akan kecupan lembut di dahinya malam itu. Kenapa Cakka datang menemuinya pagi ini?
“Nona Shilla?” resepsionis di bawah memanggilnya lagi karena dia terdiam lama.
“Eh iya. Iya, perbolehkan beliau naik.”
Setelah mematikan interkom, dalam sekejap Shilla melompat ke kamar mandi, menggosok gigi, dan mencuci mukanya. Dia mengernyitkan kening ketika menatap wajahnya di cermin, ada lingkaran hitam di matanya, bengkak seperti panda. Rasanya malu menemui Cakka dengan penampilan seperti ini, tetapi mau bagaimana lagi. Kedatangan Cakka sama sekali tidak diduganya. Dia selesai mengganti baju tidurnya dengan kaos longgar dan celana jeans yang nyaman ketika bel pintu apartemennya berbunyi. Dengan gugup Shilla membuka pintu itu.
Cakka berdiri di sana, tampak luar biasa tampan dengan kemeja warna hitam dan celana jeans abu-abu. Lelaki itu membawa kantong plastik di tangannya. Dan tiba-tiba saja Shilla merasa malu ketika membayangkan penampilannya yang berantakan ini dihadapkan dengan penampilan Cakka yang begitu sempurna.
“Selamat pagi.” Cakka menyapa dengan lembut.
Shilla sejenak hanya terpaku, terpesona dengan senyum itu, “Se...selamat pagi juga.”
“Aku membawakan sarapan.” Cakka menunjukkan plastik di tangannya, “Boleh aku masuk.”
Saat itulah Shilla sadar bahwa dia hanya berdiri terpaku sambil menatap Cakka. Dia langsung memundurkan langkahnya, memberi jalan bagi Cakka untuk melangkah masuk.
Lelaki itu tampak nyaman, tidak canggung sama sekali ketika memasuki apartemen Shilla,
“Di mana aku meletakkan makanan ini? Kau punya meja makan?”
Apartemen Shilla adalah apartemen model kecil dan sederhana, dengan ruang tamu, menyambung ke dapur yang menyatu dengan meja makan kecil, satu kamar mandi, dan satu kamar tidur di ujung ruangan. Cakka hanya tinggal berjalan sedikit untuk menuju dapur.
“Di sebelah sana ada meja makan, tapi mungkin lebih baik kita duduk di sini saja.” Shilla yang merasa canggung di sini, tidak pernah sebelumnya dia berduaan dengan seorang lelaki apalagi di dalam apartemen yang cukup privat.
“Aku meminta Albert untuk menyiapkan makanan kita.” Cakka meringis, “Omelet dan sup dari cafe, juga cokelat panas andalan kami. Ada untungnya juga menjadi pemilik cafe.” Cakka lalu duduk di sofa itu sementara Shilla berdiri canggung di dekat pintu, membuat Cakka mengerutkan keningnya,
“Sini, icipilah omelet buatan kokiku, ini menu andalan cafe untuk sarapan. Oh ya ambilkan piring ya.”
Shilla ke dapur menurut seperti kerbau yang dicucuk hidungnya mengambil piring dan sendok, lalu melangkah pelan, dan akhirnya duduk di sofa samping Cakka. Lelaki itu membuka kantong-kantong kertas makanannya, dan memindahkan omelet yang beraroma sangat harum itu ke dalam piring.
Shilla hampir meneteskan air liur mencium aroma yang sangat enak itu. Cakka lalu menyerahkan piring itu ke tangan Shilla.
“Cicipilah.” Cakka menatapnya sambil tersenyum, seolah-olah menyadari ekspresi lapar Shilla dan kemudian merasa geli. Shilla menerima piring itu dan membelah gulungan omelet yang tampak begitu lembut. Begitu dibelah isian keju yang masih panas bersama sayuran yang dicacah meleleh keluar, menebarkan aroma yang makin harum.
Shilla menyendok omelet itu dan memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang begitu gurih meleleh di mulutnya. Oh astaga, makanan ini enak sekali.
Ketika dia membuka mata dia menyadari bahwa Cakka mengamatinya, pipinya langsung memerah membuat Cakka terkekeh.
“Enak ya.”
Sambil mengambil suapan kedua, Shilla mengangguk.
“Percayakah kau kalau kubilang aku yang memasaknya?”
Shilla ternganga, “Kau bilang kokimu yang memasaknya.”
“Kalau dari awal kubilang aku yang memasaknya, mungkin kau tidak mau memakannya.”Cakka tertawa, suaranya terdengar menyenangkan memenuhi ruangan.
“Jadi kau bisa memasak?” Omelet itu meskipun sederhana terasa begitu nikmat, kelembutan dan rasanya seolah semua sudah diukur dengan ahli.
Cakka tampak merenung ketika menjawab pertanyaan Shilla, “Impianku adalah menjadi seorang koki profesional. Aku sempat bersekolah di Prancis menjalani impianku untuk menjadi seorang koki. Tetapi kemudian aku dipanggil pulang.”
“Kenapa?”
“Karena ayahku meninggal, dialah yang selama ini mengendalikan perusahaan kami. Dan Alvin... kau sudah bertemu dengan Alvinn kan?” Cakka menatap Shilla tajam, mengamati ekspresinya. Dia menatap Shilla mengangguk dengan ekspresi biasa, dan hatinya lega, tidak ada sesuatu yang istimewa yang dirasakan oleh Shilla ketika membicarakan tentang Alvin. Dia lalu melanjutkan,
“Alvin tidak bisa diandalkan karena hasratnya adalah di bidang seni, dan karena itulah dia tidak mau mengambil alih tanggung jawab perusahaan yang ditinggalkan ayah kami. Seseorang harus bertanggung jawab.”
“Jadi kaulah yang mengambil tanggung jawab itu?”
“Ya.” Cakka tersenyum sedih, “Kutinggalkan impianku di Prancis, dan aku pulang untuk menjadi seorang bisnisman.”
“Bukankah kau diwarisi cafe itu? Seharusnya kau bisa mengembangkan impianmu sebagai koki di sana.” Shilla mengamatinya dengan lugu hingga Cakka tersenyum. Shilla tidak tahu bahwa perusahaan ayahnya menyangkut jaringan luas di beberapa kota besar, di bidang kuliner dan perhotelan, dan beberapa resor besar adalah milik perusahaan ayahnya. Shilla mungkin berpikir bahwa bisnisnya hanyalah cafe itu, dan mungkin sebaiknya Shilla tetap berpikir begitu. Cakka tidak mau membuat Shilla menjauh dan kaku ketika menyadari bahwa dia adalah seorang miliarder.
“Perusahaan ayahku mencakup cafe itu dan beberapa hal lain.” Jelas Cakka berusaha menyederhanakan semuanya, “Dan beberapa hal lain itu membuatku tidak bisa bekerja sebagai koki.”
“Oh.” Shilla tampak termangu, lalu menatap Cakka dengan penuh rasa ingin tahu, “Apakah kau bahagia?”
“Apa?”
“Kau memilih meninggalkan impianmu dan memilih memikul tanggung jawab, apakah kau bahagia?”
Apakah dia bahagia? Pertanyaan itulah yang sering dia tanyakan berulang-ulang kepada dirinya sendiri. Dan dia tahu pasti jawabannya, hatinya terasa kosong.
Sama seperti ketika dia memilih untuk memikul tanggung jawab terhadap Kay. Hatinya terasa hampa.
“Aku merasa tenang.” Cakka tersenyum pahit menjawab pertanyaan Shilla, “Tetapi, apakah aku bahagia? ...Tidak... aku tidak bahagia. Kadang aku ingin bertindak egois, seperti Alvin memilih mengejar impiannya dan tidak peduli pada yang lain. Jauh di dalam hatinya dia pasti menemukan kebahagiaan sejati.” Cakka tersenyum lembut, “Mungkin aku memang tidak diciptakan untuk menikmati itu.”
Cakka tampak begitu murung, begitu gelap, dan begitu kesepian. Hingga entah kenapa hati Shilla merasakan kepedihan. Tanpa dapat ditahannya dia menyentuhkan jemarinya di lengan Cakka, membuat lelaki itu terbangun dari lamunan murungnya dan menoleh menatap Shilla,
“Kau memilih melakukan apa yang menurutmu benar.” Shilla bergumam lembut, “Setiap orang berbeda-beda, ada yang bisa melepaskan tanggung jawabnya begitu saja, tetapi kau tidak bisa melakukannya. Kau terlalu bertanggungjawab untuk melakukannya.”
Cakka tersenyum, “Ya. Terkadang melelahkan menjadi orang yang bertanggungjawab.” Lelaki itu lalu menatap Shilla dengan hangat, “Aku iri kepadamu.” Gumamnya.
“Kenapa?”
“Karena kau bisa melakukan apa yang menjadi hasratku.”
“Menjadi hasratmu?”
“Menulis.” Cakka tersenyum, “Kau hidup dari menulis. Dan aku yakin menulis adalah hasratmu, hobimu.”
Shilla tertawa, “Menulis adalah hobiku. Aku menulis sejak lama. Kalau kau mau tahu, di dalam benakku itu penuh dengan fantasi dari berbagai tokoh dan kisah.”
“Kisah romantis?”
“Iya.”
Cakka tertawa, “Pantas kau begitu kesulitan menulis akhir-akhir ini,” Matanya melembut, “Karena masalahmu dengan Raka?”
“Ya. Penerbit dan editorku sudah mengejar-ngejarku karena aku jalan di tempat akhir-akhir ini. Aku kehilangan hasrat dan kemampuan untuk menulis kisah romantis. Ketika semua tulisanku jadi, mereka bilang tidak ada roh dalam tulisanku, tidak seperti yang dulu.”
Tatapan Cakka berubah redup, “Mungkin kau hanya perlu mengalami pengalaman romantis lagi untuk bisa mendapatkan kemampuan menulismu.” Jemarinya yang ramping menyentuh pipi Shilla dengan lembut, lalu tanpa diduga-duga lelaki itu menunduk dan menciumnya.
Bibir Cakka terasa lembut menempel di bibirnya, semula begitu hati-hati dan lembut, memberi kesempatan kepada Shilla untuk menolak. Kemudian ketika tidak menemukan penolakan apapun dari Shilla, Cakka melumat bibir Shilla dengan lebih berani, mencicipi kemanisan bibir itu dan mencecapnya dengan penuh perasaan. Mata Shilla terpejam menghirup aroma maskulin yang begitu menggoda dan melingkupinya.
Mereka berciuman cukup lama, saling menikmati, dan mengenali satu sama lain. Dan ketika bibir mereka berpisah, napas mereka terengah, hidung dan bibir mereka masih menempel dan mata mereka bertatapan dengan redup. Cakka mencium bibirnya sekali lagi dengan kecupan lembut sebelum kemudian menjauhkan kepalanya dan tersenyum,
“Maafkan aku karena melakukannya.”
Shilla langsung memundurkan tubuhnya menjauh, tanpa sadar mereka sudah berpelukan dekat sekali. Pipinya merah padam, dan jantungnya berdebar keras, merasakan perasaan yang tidak pernah dirasakannya.
Malu, bingung, dan semua perasaannya bercampur menjadi satu. Dan dia tidak tahu harus berkata apa.
“Aku juga minta maaf.” Shilla akhirnya berhasil mengeluarkan kata-kata meskipun terdengar serak dan tercekat, “Sepertinya aku terbawa suasana...”
Cakka menghela napas panjang, menyentuh pipi Shilla dengan lembut, “Aku tidak bermaksud untuk merendahkanmu atau apa. Ini semua terjadi begitu saja.”
Shilla menghela napas panjang, “Mungkin kau harus pergi.”
“Baiklah.” Cakka tersenyum penuh pengertian, “Aku tahu kau mungkin membutuhkan waktu sendiri.” Lelaki itu lalu bangkit dari duduknya dan melangkah ke pintu, “Aku pergi dulu, habiskan makanannya ya.”
⧫⧫⧫
Shilla memeluk bantal dan merenung, menatap ke jendela kaca luar yang memantulkan pemandangan langit yang biru. Merenungkan kejadian tadi.
Selama ini dia selalu membawa prinsipnya dengan ketat, tetapi ketika bersama Cakka seakan dia menabrak semua hal yang diyakininya. Dia tidak pernah memasukkan laki-laki ke dalam tempat pribadinya, dia tidak pernah membiarkan dirinya disentuh dengan begitu mesra, dan membiarkan dirinya dicium. Padahal tidak ada ikatan apapun di antara mereka.
Dengan sedih Shilla menyentuh bibirnya. Apakah karena patah hati dia berubah menjadi perempuan murahan? Perempuan murahan yang membiarkan dirinya disentuh oleh seorang laki-laki tanpa ikatan?
Dengan kesal Shilla melempar bantal itu ke lantai, mendesah keras. Tidak. Ini bukan dirinya, perasaannya kepada Cakka tidak dapat dideskripsikan dengan nalar. Shilla tidak pernah begini sebelumnya, bahkan dengan Raka sekalipun.
⧫⧫⧫
Dengan dingin Cakka mengamati berkas laporan di depannya, itu adalah report lengkap dari pegawainya di kota asal Shilla tentang kehidupan Shilla dan juga Raka. Dia sedang berada di kantor pusat perusahaannya, di lantai paling atas di gedung paling mewah dalam kawasan resor paling elit di kota itu. Cakka berpakaian seperti penampilannya yang biasa ketika bekerja. Rambut disisir ke belakang dan setelan tiga potong berwarna hitam dengan dasi kelabu. Penampilannya secara keseluruhan tampak dingin dan kaku, sangat berbeda dengan penampilan informalnya ketika sedang berada di cafe ataupun di depan Shilla.
Cakka membaca semuanya dengan cepat, dan langsung mendapatkan semua informasi, tentang ayah dan ibu Shilla, tentang keluarganya, sekolahnya, dan kehidupan masa kecilnya. Dan dia menyimpan dalam ingatannya yang jenius. Ya, Cakka memang memiliki kelebihan khusus dalam hal kemampuan otak. Alvin dilahirkan dengan bakat seni yang luar biasa, sedangkan Cakka dengan kemampuan otak yang di atas rata-rata.
Setelah itu Cakka mengambil berkas tentang Raka, setelah mencermatinya sejenak, dia menemukan sesuatu.
“Raka bekerja di salah satu anak cabang kita.” Gumamnya, yang disambut dengan anggukan pegawainya.
“Minta sekretarisku menghubungi GM kita di sana, bilang aku ingin pertemuan darurat.”
⧫⧫⧫
Keesokan harinya hanya dalam waktu satu hari setelah Cakka memberi perintah, GM itu datang menghadapnya. Dia dibawa langsung ke ruangan Cakka. Pemilik perusahaan misterius yang jarang sekali terlihat, tetapi keputusan bisnisnya yang jeniuslah yang telah menggerakkan seluruh jaringan perusahaan ini sehingga bisa menjadi semakin maju. Bahkan berkali lipat lebih maju daripada ketika perusahaan ini dipimpin oleh almarhum ayahnya.
Dia dipanggil untuk sebuah meeting penting yang tidak tahu mengenai apa, dan diharapkan bisa datang secepat mungkin. Hari itu masih pagi ketika GM itu memasuki ruangan besar pimpinan tertinggi sekaligus pemilik perusahaan dan mengernyit ketika melihat ruangan itu kosong. Hanya ada dirinya dan sang pemilik perusahaan di sana. Bagaimana mungkin? Karena begitu urgentnya status panggilannya, dia menyangka bahwa rapat darurat yang dimaksudkan adalah rapat yang dihadiri seluruh pimpinan cabang.
Cakka yang duduk di kursinya tersenyum melihat kebingungan sang GM.
“Silahkan duduk.” Cakka menunggu sampai GM itu duduk dan memulai percakapan, “Anda pasti bingung kenapa anda dipanggil kemari sendirian.”
GM itu mengangguk dan mulai tampak gugup, membuat Cakka tersenyum geli dalam hati. Dia mengeluarkan berkas tentang Raka di mejanya.
“Orang ini ....” Cakka menunjukkan foto Raka yang tampak jelas, “Bekerja di perusahaan kita.”
GM itu menganggukkan kepalanya. Tentu saja dia mengenali wajah itu, itu adalah Raka, Manager Pemasaran mereka. “Dia adalah Manager Pemasaran untuk cabang yang saya pegang,” GM itu memberikan informasi meskipun yakin bahwa sang pemilik perusahaan sudah tahu.
“Aku merasa terganggu dengan orang ini,” gumam Cakka dingin. “Bisa dikatakan dia mengusik ketenangan orang yang aku sayangi.”
GM itu mengernyit. Raka melakukannya? Pasti lelaki itu melakukannya karena tidak tahu bahwa Cakka adalah pemilik perusahaan mereka. Kalau sudah begini dia tidak akan bisa apa-apa untuk membantu Raka.
“Anda ingin saya memecatnya?” gumamnya, mencoba menebak apa keinginan Cakka yang saat ini memandangnya dengan tatapan kelam dan misterius.
Cakka menggelengkan kepala, “Tidak. Aku hanya ingin dia tersingkir jauh dan tidak bisa menjangkau ke dekat-dekat sini.” Matanya bersinar tajam, “Bilang padanya bahwa dia berprestasi, lakukan apapun untuk meyakinkannya, kau mendapatkan izinku. Setelah itu berikan dia promosi tetapi tempatkan dia ke anak cabang kita yang paling jauh dari sini.”
Cakka nampak berpikir, “Cari tempat di mana dia sulit untuk sering-sering berkunjung ke area sekitar sini.”
GM itu hanya bisa menganggukkan kepalanya. Gosip itu ternyata benar. Mereka bilang bahwa pemilik perusahaan mereka yang misterius sangat tampan tetapi kejam. Betapa tidak beruntungnya orang-orang yang berani mengusiknya. Karena lelaki itu tidak segan-segan memberikan pembalasan yang lebih menyakitkan. Seperti halnya pada kasus Raka, Cakka rupanya tak segan-segan memberikan kedok promosi hanya agar Raka menyingkir dari kehidupannya dan Shilla.
⧫⧫⧫
Shilla sedang mengetikkan adegan romantis di tengah hujan, jemarinya mengalir lumayan lancar untuk mengetik kisah itu. Mungkin karena didukung suasana hujan di luar yang membuat kamarnya temaram dan syahdu.
Lalu ponselnya berkedip-kedip. Shilla tersenyum ketika melihat nama ibunya di sana.
“Kau pasti tidak akan percaya.” Gumam ibunya bahkan sebelum Shilla  mengucapkan salam.
“Tidak percaya apa?”
“Raka.” Ibunya menyebutkan nama Raka dengan hati-hati, “Dia tadi kemari, untuk berpamitan.”
“Berpamitan?”
“Ya. Dia bilang dia mendapatkan promosi yang sangat bagus di tempatnya bekerja, jabatannya naik tiga tingkat. Tetapi dia harus pindah ke tempat yang jauh.” Sang ibu menyebutkan tempat yang sangat jauh dari tempat mereka sekarang, “Kasihan dia, Shilla. Ibu memang jengkel kepadanya, tetapi dia, meskipun mendapatkan promosi yang harusnya membahagiakan, dia tampak kurus dan sedih.... mungkin itu semua karena dirimu.”
“Itu karena salahnya sendiri dan dia yang harus menanggungnya.” Shilla mencoba bersikap kejam. Dia harus begitu, kalau tidak kelemahannya akan dimanfaatkan oleh Raka lagi.
Setelah bercakap-cakap dengan ibunya di telepon sejenak, Shilla mengakhiri percakapan dan menutup telepon, tiba-tiba merasakan kelegaan yang luar biasa.
Raka sudah pindah ke tempat yang jauh, itu berarti Raka tidak akan bisa mengganggunya lagi. Sekarang dia bisa fokus untuk menyembuhkan dirinya, dan menata kehidupannya yang baru.
⧫⧫⧫
Malam itu Shilla menatap cafe itu dengan ragu. Sejak kejadian ciuman tak disengaja itu, Shilla tidak pernah datang ke cafe itu lagi. Dia takut. Ya, kedekatannya dengan Cakka yang begitu cepat ternyata membuatnya ketakutan dan lari. Mungkin karena dia belum siap membuka hatinya untuk lelaki lain, mungkin juga karena dia masih belum sembuh dari prasangkanya bahwa semua lelaki itu sama, hannya akan menyakitinya.
Tetapi malam itu Shilla berusaha memberanikan diri, dia harus bisa menghadapi Cakka, dan menelaah perasaannya. Mencoba mencari tahu kenapa lelaki itu sangat sulit dikeluarkan dari benaknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar