You’ve Got Me From Hello
Santhy agatha
NO COPAST!
“Kau sudah
menggenggam hatiku sejak sapaan pertamamu. Dan sekarang giliranku yang akan
mencuri hatimu.”
5
Pagi harinya Shilla
masih tertidur dan meringkuk di atas ranjangnya ketika suara interkom pintunya
berbunyi. Shilla mengernyit, meraih jam beker di sebelah ranjangnya. Masih jam
enam pagi. Siapa yang berkunjung sepagi ini?
Dengan susah payah
Shilla turun dari ranjang, matanya pasti bengkak karena dia menangis semalaman
sampai ketiduran, dan kepalanya pening karenannya.
Dia memijit tombol
interkom yang berhubungan langsung dengan resepsionis di depan.
“Ya?” gumamnya
dengan suara yang masih serak.
“Nona Shilla, ada
tamu untuk anda.”
Shilla langsung
waspada, apakah Raka masih belum menyerah juga?
“Siapa?”
“Tuan Cakka meminta
akses untuk naik dan menemui anda.”
Jantung Shilla
langsung berdebar, teringat akan kecupan lembut di dahinya malam itu. Kenapa Cakka
datang menemuinya pagi ini?
“Nona Shilla?”
resepsionis di bawah memanggilnya lagi karena dia terdiam lama.
“Eh iya. Iya,
perbolehkan beliau naik.”
Setelah mematikan
interkom, dalam sekejap Shilla melompat ke kamar mandi, menggosok gigi, dan
mencuci mukanya. Dia mengernyitkan kening ketika menatap wajahnya di cermin,
ada lingkaran hitam di matanya, bengkak seperti panda. Rasanya malu menemui Cakka
dengan penampilan seperti ini, tetapi mau bagaimana lagi. Kedatangan Cakka sama
sekali tidak diduganya. Dia selesai mengganti baju tidurnya dengan kaos longgar
dan celana jeans yang nyaman ketika bel pintu apartemennya berbunyi. Dengan
gugup Shilla membuka pintu itu.
Cakka berdiri di sana, tampak luar biasa tampan dengan kemeja
warna hitam dan celana jeans abu-abu. Lelaki itu membawa kantong plastik di
tangannya. Dan tiba-tiba saja Shilla merasa malu ketika membayangkan
penampilannya yang berantakan ini dihadapkan dengan penampilan Cakka yang
begitu sempurna.
“Selamat pagi.” Cakka menyapa dengan lembut.
Shilla sejenak hanya terpaku, terpesona dengan senyum itu,
“Se...selamat pagi juga.”
“Aku membawakan sarapan.” Cakka menunjukkan plastik di tangannya,
“Boleh aku masuk.”
Saat itulah Shilla sadar bahwa dia hanya berdiri terpaku sambil
menatap Cakka. Dia langsung memundurkan langkahnya, memberi jalan bagi Cakka
untuk melangkah masuk.
Lelaki itu tampak nyaman, tidak canggung sama sekali ketika
memasuki apartemen Shilla,
“Di mana aku meletakkan makanan ini? Kau punya meja makan?”
Apartemen Shilla adalah apartemen model kecil dan sederhana,
dengan ruang tamu, menyambung ke dapur yang menyatu dengan meja makan kecil,
satu kamar mandi, dan satu kamar tidur di ujung ruangan. Cakka hanya tinggal
berjalan sedikit untuk menuju dapur.
“Di sebelah sana ada meja makan, tapi mungkin lebih baik kita
duduk di sini saja.” Shilla yang merasa canggung di sini, tidak pernah
sebelumnya dia berduaan dengan seorang lelaki apalagi di dalam apartemen yang
cukup privat.
“Aku meminta Albert
untuk menyiapkan makanan kita.” Cakka meringis, “Omelet dan sup dari cafe, juga
cokelat panas andalan kami. Ada untungnya juga menjadi pemilik cafe.” Cakka lalu duduk di sofa itu sementara Shilla berdiri
canggung di dekat pintu, membuat Cakka mengerutkan keningnya,
“Sini, icipilah omelet buatan kokiku, ini
menu andalan cafe untuk sarapan. Oh ya ambilkan piring ya.”
Shilla ke dapur menurut seperti kerbau yang dicucuk
hidungnya mengambil piring dan sendok, lalu melangkah pelan, dan akhirnya duduk
di sofa samping Cakka. Lelaki itu membuka kantong-kantong kertas makanannya,
dan memindahkan omelet yang beraroma sangat harum itu ke dalam piring.
Shilla hampir meneteskan air liur mencium
aroma yang sangat enak itu. Cakka lalu menyerahkan piring itu ke tangan Shilla.
“Cicipilah.” Cakka menatapnya sambil
tersenyum, seolah-olah menyadari ekspresi lapar Shilla dan kemudian merasa
geli. Shilla menerima piring itu dan membelah gulungan omelet yang tampak
begitu lembut. Begitu dibelah isian keju yang masih panas bersama sayuran yang
dicacah meleleh keluar, menebarkan aroma yang makin harum.
Shilla menyendok omelet itu dan memejamkan
matanya merasakan kenikmatan yang begitu gurih meleleh di mulutnya. Oh astaga,
makanan ini enak sekali.
Ketika dia membuka mata dia menyadari
bahwa Cakka mengamatinya, pipinya langsung memerah membuat Cakka terkekeh.
“Enak ya.”
Sambil mengambil suapan kedua, Shilla
mengangguk.
“Percayakah kau kalau kubilang aku yang
memasaknya?”
Shilla ternganga, “Kau bilang kokimu yang
memasaknya.”
“Kalau dari awal kubilang aku yang
memasaknya, mungkin kau tidak mau memakannya.”Cakka tertawa, suaranya terdengar
menyenangkan memenuhi ruangan.
“Jadi kau bisa memasak?” Omelet itu
meskipun sederhana terasa begitu nikmat, kelembutan dan rasanya seolah semua
sudah diukur dengan ahli.
Cakka tampak merenung ketika menjawab
pertanyaan Shilla, “Impianku adalah menjadi seorang koki profesional. Aku
sempat bersekolah di Prancis menjalani impianku untuk menjadi seorang koki.
Tetapi kemudian aku dipanggil pulang.”
“Kenapa?”
“Karena ayahku meninggal, dialah yang
selama ini mengendalikan perusahaan kami. Dan Alvin... kau sudah bertemu dengan
Alvinn kan?” Cakka menatap Shilla tajam, mengamati ekspresinya. Dia menatap Shilla
mengangguk dengan ekspresi biasa, dan hatinya lega, tidak ada sesuatu yang
istimewa yang dirasakan oleh Shilla ketika membicarakan tentang Alvin. Dia lalu
melanjutkan,
“Alvin tidak bisa diandalkan karena
hasratnya adalah di bidang seni, dan karena itulah dia tidak mau mengambil alih
tanggung jawab perusahaan yang ditinggalkan ayah kami. Seseorang harus
bertanggung jawab.”
“Jadi kaulah yang mengambil tanggung jawab
itu?”
“Ya.” Cakka tersenyum sedih, “Kutinggalkan
impianku di Prancis, dan aku pulang untuk menjadi seorang bisnisman.”
“Bukankah kau diwarisi cafe itu?
Seharusnya kau bisa mengembangkan impianmu sebagai koki di sana.” Shilla
mengamatinya dengan lugu hingga Cakka tersenyum. Shilla tidak tahu bahwa
perusahaan ayahnya menyangkut jaringan luas di beberapa kota besar, di bidang
kuliner dan perhotelan, dan beberapa resor besar adalah milik perusahaan
ayahnya. Shilla mungkin berpikir bahwa bisnisnya hanyalah cafe itu, dan mungkin
sebaiknya Shilla tetap berpikir begitu. Cakka tidak mau membuat Shilla menjauh
dan kaku ketika menyadari bahwa dia adalah seorang miliarder.
“Perusahaan ayahku mencakup cafe itu dan
beberapa hal lain.” Jelas Cakka berusaha menyederhanakan semuanya, “Dan
beberapa hal lain itu membuatku tidak bisa bekerja sebagai koki.”
“Oh.” Shilla tampak termangu, lalu menatap
Cakka dengan penuh rasa ingin tahu, “Apakah kau bahagia?”
“Apa?”
“Kau memilih meninggalkan impianmu dan
memilih memikul tanggung jawab, apakah kau bahagia?”
Apakah dia bahagia? Pertanyaan itulah yang sering dia tanyakan
berulang-ulang kepada dirinya sendiri. Dan dia tahu pasti jawabannya, hatinya
terasa kosong.
Sama seperti ketika dia memilih untuk
memikul tanggung jawab terhadap Kay. Hatinya terasa hampa.
“Aku merasa tenang.” Cakka tersenyum pahit
menjawab pertanyaan Shilla, “Tetapi, apakah aku bahagia? ...Tidak... aku tidak
bahagia. Kadang aku ingin bertindak egois, seperti Alvin memilih mengejar
impiannya dan tidak peduli pada yang lain. Jauh di dalam hatinya dia pasti
menemukan kebahagiaan sejati.” Cakka tersenyum lembut, “Mungkin aku memang
tidak diciptakan untuk menikmati itu.”
Cakka tampak begitu murung, begitu gelap,
dan begitu kesepian. Hingga entah kenapa hati Shilla merasakan kepedihan. Tanpa
dapat ditahannya dia menyentuhkan jemarinya di lengan Cakka, membuat lelaki itu
terbangun dari lamunan murungnya dan menoleh menatap Shilla,
“Kau memilih melakukan apa yang menurutmu
benar.” Shilla bergumam lembut, “Setiap orang berbeda-beda, ada yang bisa
melepaskan tanggung jawabnya begitu saja, tetapi kau tidak bisa melakukannya.
Kau terlalu bertanggungjawab untuk melakukannya.”
Cakka tersenyum, “Ya. Terkadang melelahkan
menjadi orang yang bertanggungjawab.” Lelaki itu lalu menatap Shilla dengan
hangat, “Aku iri kepadamu.” Gumamnya.
“Kenapa?”
“Karena kau bisa melakukan apa yang
menjadi hasratku.”
“Menjadi hasratmu?”
“Menulis.” Cakka tersenyum, “Kau hidup
dari menulis. Dan aku yakin menulis adalah hasratmu, hobimu.”
Shilla tertawa, “Menulis adalah hobiku.
Aku menulis sejak lama. Kalau kau mau tahu, di dalam benakku itu penuh dengan
fantasi dari berbagai tokoh dan kisah.”
“Kisah romantis?”
“Iya.”
Cakka tertawa, “Pantas kau begitu
kesulitan menulis akhir-akhir ini,” Matanya melembut, “Karena masalahmu dengan Raka?”
“Ya. Penerbit dan editorku sudah
mengejar-ngejarku karena aku jalan di tempat akhir-akhir ini. Aku kehilangan
hasrat dan kemampuan untuk menulis kisah romantis. Ketika semua tulisanku jadi,
mereka bilang tidak ada roh dalam tulisanku, tidak seperti yang dulu.”
Tatapan Cakka berubah redup, “Mungkin kau
hanya perlu mengalami pengalaman romantis lagi untuk bisa mendapatkan kemampuan
menulismu.” Jemarinya yang ramping menyentuh pipi Shilla dengan lembut, lalu
tanpa diduga-duga lelaki itu menunduk dan menciumnya.
Bibir Cakka terasa lembut menempel di
bibirnya, semula begitu hati-hati dan lembut, memberi kesempatan kepada Shilla
untuk menolak. Kemudian ketika tidak menemukan penolakan apapun dari Shilla, Cakka
melumat bibir Shilla dengan lebih berani, mencicipi kemanisan bibir itu dan
mencecapnya dengan penuh perasaan. Mata Shilla terpejam menghirup aroma
maskulin yang begitu menggoda dan melingkupinya.
Mereka berciuman cukup lama, saling
menikmati, dan mengenali satu sama lain. Dan ketika bibir mereka berpisah,
napas mereka terengah, hidung dan bibir mereka masih menempel dan mata mereka
bertatapan dengan redup. Cakka mencium bibirnya sekali lagi dengan kecupan
lembut sebelum kemudian menjauhkan kepalanya dan tersenyum,
“Maafkan aku karena melakukannya.”
Shilla langsung memundurkan tubuhnya
menjauh, tanpa sadar mereka sudah berpelukan dekat sekali. Pipinya merah padam,
dan jantungnya berdebar keras, merasakan perasaan yang tidak pernah
dirasakannya.
Malu, bingung, dan semua perasaannya
bercampur menjadi satu. Dan dia tidak tahu harus berkata apa.
“Aku juga minta maaf.” Shilla akhirnya
berhasil mengeluarkan kata-kata meskipun terdengar serak dan tercekat,
“Sepertinya aku terbawa suasana...”
Cakka menghela napas panjang, menyentuh
pipi Shilla dengan lembut, “Aku tidak bermaksud untuk merendahkanmu atau apa.
Ini semua terjadi begitu saja.”
Shilla menghela napas panjang, “Mungkin
kau harus pergi.”
“Baiklah.” Cakka tersenyum penuh
pengertian, “Aku tahu kau mungkin membutuhkan waktu sendiri.” Lelaki itu lalu
bangkit dari duduknya dan melangkah ke pintu, “Aku pergi dulu, habiskan
makanannya ya.”
⧫⧫⧫
Shilla memeluk bantal dan merenung,
menatap ke jendela kaca luar yang memantulkan pemandangan langit yang biru.
Merenungkan kejadian tadi.
Selama ini dia selalu membawa prinsipnya
dengan ketat, tetapi ketika bersama Cakka seakan dia menabrak semua hal yang
diyakininya. Dia tidak pernah memasukkan laki-laki ke dalam tempat pribadinya,
dia tidak pernah membiarkan dirinya disentuh dengan begitu mesra, dan
membiarkan dirinya dicium. Padahal tidak ada ikatan apapun di antara mereka.
Dengan sedih Shilla menyentuh bibirnya.
Apakah karena patah hati dia berubah menjadi perempuan murahan? Perempuan
murahan yang membiarkan dirinya disentuh oleh seorang laki-laki tanpa ikatan?
Dengan kesal Shilla melempar bantal itu ke
lantai, mendesah keras. Tidak. Ini bukan dirinya, perasaannya kepada Cakka
tidak dapat dideskripsikan dengan nalar. Shilla tidak pernah begini sebelumnya,
bahkan dengan Raka sekalipun.
⧫⧫⧫
Dengan dingin Cakka mengamati berkas laporan di depannya, itu adalah report
lengkap dari pegawainya di kota asal Shilla tentang kehidupan Shilla dan
juga Raka. Dia sedang berada di kantor pusat perusahaannya, di lantai paling
atas di gedung paling mewah dalam kawasan resor paling elit di kota itu. Cakka
berpakaian seperti penampilannya yang biasa ketika bekerja. Rambut disisir ke
belakang dan setelan tiga potong berwarna hitam dengan dasi kelabu.
Penampilannya secara keseluruhan tampak dingin dan kaku, sangat berbeda dengan
penampilan informalnya ketika sedang berada di cafe ataupun di depan Shilla.
Cakka membaca semuanya dengan cepat, dan
langsung mendapatkan semua informasi, tentang ayah dan ibu Shilla, tentang
keluarganya, sekolahnya, dan kehidupan masa kecilnya. Dan dia menyimpan dalam
ingatannya yang jenius. Ya, Cakka memang memiliki kelebihan khusus dalam hal
kemampuan otak. Alvin dilahirkan dengan bakat seni yang luar biasa, sedangkan Cakka
dengan kemampuan otak yang di atas rata-rata.
Setelah itu Cakka mengambil berkas tentang
Raka, setelah mencermatinya sejenak, dia menemukan sesuatu.
“Raka bekerja di salah satu anak cabang
kita.” Gumamnya, yang disambut dengan anggukan pegawainya.
“Minta sekretarisku menghubungi GM kita
di sana, bilang aku ingin pertemuan darurat.”
⧫⧫⧫
Keesokan harinya hanya dalam waktu satu
hari setelah Cakka memberi perintah, GM itu datang menghadapnya. Dia
dibawa langsung ke ruangan Cakka. Pemilik perusahaan misterius yang jarang
sekali terlihat, tetapi keputusan bisnisnya yang jeniuslah yang telah
menggerakkan seluruh jaringan perusahaan ini sehingga bisa menjadi semakin
maju. Bahkan berkali lipat lebih maju daripada ketika perusahaan ini dipimpin
oleh almarhum ayahnya.
Dia dipanggil untuk sebuah meeting penting yang tidak tahu mengenai apa,
dan diharapkan bisa datang secepat mungkin. Hari itu masih pagi ketika GM itu
memasuki ruangan besar pimpinan tertinggi sekaligus pemilik perusahaan dan mengernyit
ketika melihat ruangan itu kosong. Hanya ada dirinya dan sang pemilik
perusahaan di sana. Bagaimana mungkin? Karena begitu urgentnya status
panggilannya, dia menyangka bahwa rapat darurat yang dimaksudkan adalah rapat
yang dihadiri seluruh pimpinan cabang.
Cakka yang duduk di kursinya tersenyum
melihat kebingungan sang GM.
“Silahkan duduk.” Cakka menunggu sampai GM
itu duduk dan memulai percakapan, “Anda pasti bingung kenapa anda dipanggil
kemari sendirian.”
GM itu mengangguk dan mulai tampak gugup, membuat Cakka
tersenyum geli dalam hati. Dia mengeluarkan berkas tentang Raka di mejanya.
“Orang ini ....” Cakka menunjukkan foto Raka
yang tampak jelas, “Bekerja di perusahaan kita.”
GM itu menganggukkan kepalanya. Tentu saja dia mengenali
wajah itu, itu adalah Raka, Manager Pemasaran mereka. “Dia adalah Manager
Pemasaran untuk cabang yang saya pegang,” GM itu memberikan informasi
meskipun yakin bahwa sang pemilik perusahaan sudah tahu.
“Aku merasa terganggu dengan orang ini,”
gumam Cakka dingin. “Bisa dikatakan dia mengusik ketenangan orang yang aku
sayangi.”
GM itu mengernyit. Raka melakukannya? Pasti lelaki itu
melakukannya karena tidak tahu bahwa Cakka adalah pemilik perusahaan mereka.
Kalau sudah begini dia tidak akan bisa apa-apa untuk membantu Raka.
“Anda ingin saya memecatnya?” gumamnya,
mencoba menebak apa keinginan Cakka yang saat ini memandangnya dengan tatapan
kelam dan misterius.
Cakka menggelengkan kepala, “Tidak. Aku
hanya ingin dia tersingkir jauh dan tidak bisa menjangkau ke dekat-dekat sini.”
Matanya bersinar tajam, “Bilang padanya bahwa dia berprestasi, lakukan apapun
untuk meyakinkannya, kau mendapatkan izinku. Setelah itu berikan dia promosi
tetapi tempatkan dia ke anak cabang kita yang paling jauh dari sini.”
Cakka nampak berpikir, “Cari tempat di
mana dia sulit untuk sering-sering berkunjung ke area sekitar sini.”
GM itu hanya bisa menganggukkan kepalanya. Gosip itu
ternyata benar. Mereka bilang bahwa pemilik perusahaan mereka yang misterius
sangat tampan tetapi kejam. Betapa tidak beruntungnya orang-orang yang berani
mengusiknya. Karena lelaki itu tidak segan-segan memberikan pembalasan yang
lebih menyakitkan. Seperti halnya pada kasus Raka, Cakka rupanya tak segan-segan
memberikan kedok promosi hanya agar Raka menyingkir dari kehidupannya dan Shilla.
⧫⧫⧫
Shilla sedang mengetikkan adegan romantis
di tengah hujan, jemarinya mengalir lumayan lancar untuk mengetik kisah itu.
Mungkin karena didukung suasana hujan di luar yang membuat kamarnya temaram dan
syahdu.
Lalu ponselnya berkedip-kedip. Shilla
tersenyum ketika melihat nama ibunya di sana.
“Kau pasti tidak akan percaya.” Gumam
ibunya bahkan sebelum Shilla mengucapkan
salam.
“Tidak percaya apa?”
“Raka.” Ibunya menyebutkan nama Raka
dengan hati-hati, “Dia tadi kemari, untuk berpamitan.”
“Berpamitan?”
“Ya. Dia bilang dia mendapatkan promosi
yang sangat bagus di tempatnya bekerja, jabatannya naik tiga tingkat. Tetapi
dia harus pindah ke tempat yang jauh.” Sang ibu menyebutkan tempat yang sangat
jauh dari tempat mereka sekarang, “Kasihan dia, Shilla. Ibu memang jengkel
kepadanya, tetapi dia, meskipun mendapatkan promosi yang harusnya
membahagiakan, dia tampak kurus dan sedih.... mungkin itu semua karena dirimu.”
“Itu karena salahnya sendiri dan dia yang
harus menanggungnya.” Shilla mencoba bersikap kejam. Dia harus begitu, kalau
tidak kelemahannya akan dimanfaatkan oleh Raka lagi.
Setelah bercakap-cakap dengan ibunya di
telepon sejenak, Shilla mengakhiri percakapan dan menutup telepon, tiba-tiba
merasakan kelegaan yang luar biasa.
Raka sudah pindah ke tempat yang jauh, itu
berarti Raka tidak akan bisa mengganggunya lagi. Sekarang dia bisa fokus untuk
menyembuhkan dirinya, dan menata kehidupannya yang baru.
⧫⧫⧫
Malam itu Shilla menatap cafe itu dengan
ragu. Sejak kejadian ciuman tak disengaja itu, Shilla tidak pernah datang ke
cafe itu lagi. Dia takut. Ya, kedekatannya dengan Cakka yang begitu cepat
ternyata membuatnya ketakutan dan lari. Mungkin karena dia belum siap membuka
hatinya untuk lelaki lain, mungkin juga karena dia masih belum sembuh dari prasangkanya
bahwa semua lelaki itu sama, hannya akan menyakitinya.
Tetapi malam itu Shilla berusaha
memberanikan diri, dia harus bisa menghadapi Cakka, dan menelaah perasaannya.
Mencoba mencari tahu kenapa lelaki itu sangat sulit dikeluarkan dari benaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar